“TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.”

(Ratapan 3:25)

Ratapan 3:1-48

Ada kisah tentang dua orang tahanan yang berada dalam satu sel kecil. Tanpa lampu, kecuali cahaya yang masuk melalui jendela yang kecil, yang tingginya hampir satu meter dari atas tanah. Dua orang tahanan itu seringkali melihat ke arah jendela itu. Salah satu tahanan hanya melihat teralis yang sudah pasti jelek. Warna metalik yang mengingatkan mereka akan realita. Dari waktu ke waktu tahanan itu menjadi putus asa. Hatinya pahit, marah dan tak berpengharapan. Salah seorang lagi melihat bintang-bintang di langit ketika malam datang. Pengharapan mulai muncul ketika ia mulai berpikir tentang kemungkinan untuk memulai sebuah kehidupan yang baru dalam kebebasan. Kedua tahanan tersebut melihat jendela yang sama, tetapi yang satu fokus terhadap jeruji besi yang berkarat, sedang yang satu melihat bintang. Dan pada akhirnya, perbedaan cara pandang tersebut mempengaruhi masa depan mereka.

Kitab Ratapan merupakan keluhan nabi Yeremia. Kitab ini menceritakan keadaan bangsa Yehuda yang sedang mendapat hukuman Tuhan. Sekalipun Yeremia nabi, tetapi ia juga sebagai orang Yehuda. Yeremia tidak dapat menahan kesedihan, ketika melihat bangsanya menuju kehancuran. Mari perhatikan ungkapan penderitaan Yeremia, “Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan” (ayat 17). Meskipun seperti itu, Yeremia masih punya pengharapan, ia menyangka telah kehilangan pengharapan (ayat 18). Tetapi, di tengah-tengah penderitaanya, ia masih punya pengharapan kepada Tuhan.

Anda tidak dapat menghindari masalah, tetapi Anda mampu melewati dengan tenang jika pengharapan itu ada. Ingatlah janji Tuhan, bahwa Ia baik bagi orang yang berharap kepada-Nya.

“SUDUT PANDANG YANG SALAH MENENTUKAN CARA KITA MENYIKAPI REALITA KEHIDUPAN”