Cara lain untuk bebas dari amarah adalah dengan menjadi orang yang pemaaf. Yesus berkata kepada para pengikutNya bahwa penyesatan akan menghampiri mereka tanpa dapat dielakkan (Matius 18:7). Kita adalah manusia dan kita saling melukai. Aka nada konflik dan perselisihan. Yesus menyuruh kita untuk mempersiapkan diri bagi hal-hal tersebut.

Ketika ada orang yang melukai kita, tidak salah untuk merasa jengkel atau terluka. Tanggapan kitalah yang lebih penting. Kita dapat menanggapi dengan amarah, kepahitan dan kebencian. Ini adalah reaksi alami kita. Seseorang menyakiti kita, maka mereka berutang kepada kita dan kita akan membuat mereka membayarnya. Sayangnya, tanggapan semacam ini menghentikan proses kesembuhan dan secara dramatis mempengaruhi kita-secara fisik, emosional, dan rohani dan juga dalam hubungan. Allah tidak pernah merencanakan agar kita hidup dengan racun mematikan ini di dalam diri kita.

Pilihan lainnya ketika kita dilukai adalah memilih untuk mengampuni, Pengampunan adalah obat penawar Allah untuk segala luka hati. Pengampunan memampukan untuk membebaskan orang itu dan dengan membebaskan mereka, kita membebaskan diri kita sendiri. Rasul Paulus mengatakannya dengan cara seperti itu.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam, sebelum padamu amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis, hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di mana Kristus telah mengampuni kamu (Efensus 4:25-27, 31-32).

Paulus mengatakan kepada kita untuk tidak membiarkan diri kita marah sampai matahari terbenam. Ia memberi kita waktu dua puluh empat jam untuk membereskan itu. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan menyelesaikan perasaaan marah dalam sehari. Namun, kita harus memastikan , bahwa ada suatu urgensi ketika ada suatu pelanggaran. Kita tidak boleh memendam keluh kesah kita. Kita harus berusaha membiarkan pengampunan mengalir ke dalam situasi itu.

Pengampunan sangat penting karena ia menolong untuk memelihara hubungan pada saat ada ketegangan konlik. Banyak hubungan rusak dan hancur hanya karena orang lebih focus untuk menjadi benar daripada memulihkan hubungan tersebut. Kita perlu mengampuni demi hubungan kita dan kita perlu mengampuni demi kemeredekaan kita sendiri. Ketika kita tidak mengampuni seseorang, kita memenjarakan diri kita sendiri. Kita mengikat roh kita sendiri dan memberikan iblis pijakan atau akses ke dalam hidup kita.

Jadi kita harus mengampuni karena Allah telah mengampuni kita. Ketika mengajarkan kepada murid-muridNya tentang cara berdoa, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa jika mereka tidak mengampuni mereka yang bersalah dan melukai mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka (Matius 6:9-15). Hal ini sangat menantang, Pikirkanlah. Jika kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka Allah tidak akan mengampuni dosa kita. Ada banyak orang Kristen zaman sekarang yang tidak menyadari dampak apa yang sedang terjadi didalam dunia rohani mereka ketika mereka memilih untuk tidak mengampuni orang yang telah bersalah kepada mereka.