Berbagai informasi yang semakin terbuka, mau tak mau, sampai ke telinga anak. Anak masa kini juga semakin cerdas dan kritis dengan pengalaman eksplorasi dirinya. Termasuk seputar tubuh dan seksualitas.

Sebagai orangtua, jangan mudah gusar saat anak mulai bertanya tentang payudara, penis, dan vagina. Lebih jauh lagi, jika anak mulai ingin tahu, apa itu melahirkan atau mulai membandingkan ukuran kelaminnya.

Psikolog Sani B. Hermawan, Psi, menyebutkan tujuh sikap orangtua yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak:

1. Luangkan waktu dan mulailah dialog

Bersikaplah aktif, jangan hanya menunggu. Sebagai orangtua Anda perlu berinisiatif membangun dialog dengan anak, dengan memberikan pemahaman seks sesuai kebutuhan dan tahapan anak (lihat tahapan edukasi seks). Luangkan waktu bersama pasangan, untuk membangun dialog dengan anak.

"Jangan hanya menunggu anak bertanya kepada Anda, nanti terlambat, anak sudah terlanjur merajalela mencari informasi dari luar yang belum tentu benar," jelas Sani dalam media workshop di Annex Building, Wisma Nusantara Complex, Jakarta, Kamis (22/7/2010) lalu.

2. Terbuka dan informatif

Orangtua perlu lebih terbuka kepada anak-anak dalam mentransfer informasi. Terkait seputar seksualitas, orangtua perlu memberikan pemahaman sikap yang dibolehkan dan yang tidak. Tumbuhkan rasa malu dalam diri anak, kata Sani. Misalnya, keluar dari kamar mandi tidak boleh telanjang tetapi harus menutupi tubuhnya. Dengan cara ini anak bisa belajar bersikap dan membedakan sikap baik dan buruk seputar tubuhnya.

3. Lengkapi dengan materi
Bekali diri dengan membaca berbagai referensi. Sempatkan waktu bersama pasangan, untuk berdialog dengan para pakar. Sebagai orangtua dalam era pola asuh modern, Anda perlu membekali diri dengan berbagai informasi yang benar. Termasuk cara menyampaikan yang tepat kepada anak, misalnya tidak menggunakan bahasa kiasan, tetapi istilah ilmiah.

Read more...

Apakah Anda merasa pasangan atau kekasih sangat sulit mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata? Anda tidak sendiri. Kejadian seperti juga dialami banyak pasangan.

Sebagian pria mengaku sangat ingin mengungkapkan pada pasangan. Namun karena berbagai hal, mereka menunda dan membiarkannya berlalu. Laman MSN memberi gambaran apa saja yang membuat lidah para pria mendadak kelu saat akan mengutarakan isi hati mereka.

1. "Aku butuh bantuan"
Pria yang mau mengakui, ia membutuhkan bantuan secara emosional merupakan sebuah prestasi yang besar. Sebagian besar pria masih beranggapan, mereka harus menjadi orang yang tegar, penyedia segala kebutuhan bagi wanita, tidak memperlihatkan emosi dan sebagainya.

Mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan seringkali membuat mereka merasa dirinya lemah. Jadi, jika semangat pasangan mulai turun, berada di dekatnya dan dukungan sangat berarti baginya.

2. "Bisakah memakai pakaian yang lain?"
Pria sangat menghargai wanita yang memakai pakaian dan riasan yang sesuai suasana. Meskipun terkadang tidak setuju dengan cara berpakaian Anda, pasangan biasanya tidak dapat berbuat banyak untuk mengatakannya. Terkadang, gairah pria bisa melorot akibat menganggap pasangannya mengenakan pakaian yang tak pantas.

3. "Aku butuh waktu sendiri"
Seperti halnya wanita, pria juga membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Menarik diri dari Anda sementara waktu bukan berarti ia tak menghargai Anda sebagai pasangan. Saat sendiri, pria akan mengevaluasi berbagai hal dalam hidupnya termasuk segala hal dalam hubungan berdua.

 

Read more...

Faktanya, pernikahan dini memiliki dampak negatif. Bukan sekadar fisik dan psikis. Menikah sebelum cukup usia, ternyata masih banyak terjadi di kota maupun di daerah-daerah di Indonesia. Budaya perjodohan bahkan sejak anak perempuan belum lulus SD atau SMP, masih dilakukan  banyak orangtua, terutama yang tinggal di pedesaan.
Dari penelitian yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Rembang, pernikahan dini yang dilakukan anak-anak usia sekolah masih terbilang tinggi. Pada 2006 - 2010, jumlah anak menikah usia dini (menikah di bawah usia 17 tahun) masih meningkat walaupun persentasenya naik turun.

“Pada 2006 jumlahnya 12, 2007 ada 6, 2008 sebanyak 21 anak, 2009 sebanyak 31 anak dan 2010 sampai dengan Juli jumlah anak menikah usia dini sebanyak 28,” kata Sekretaris Cabang KPI Rembang, Iin Arinta Fahadiana dalam Diskusi Publik Refleksi Hari Anak Nasional dengan tema 'Perkawinan Anak, Salah Siapa' di Gedung BPPT, Thamrin, Jakarta, kemarin.
Sementara data lain menunjukkan, ada beberapa penyebab terjadinya pernikahan anak usia dini. DR Sukron Kamil, salah seorang peneliti dari UIN menyatakan, 62 persen wanita menikah karena hamil, 21 persen pernikahan karena ingin memperbaiki ekonomi dan keluar dari kemiskinan dan sisanya karena dipaksa orangtua dan karena status sosial.
Namun dari fakta yang didapat, perlu diketahui, pernikahan dini memiliki dampak negatif. “Bukan sekadar dampak psikis dan fisik,” kata Iin.

Apa saja dampak dari pernikahan anak usia dini?

1. Kekerasan terhadap anak
Anak bisa mengalami kekerasan dari orangtua atau keluarga bila menolak untuk dinikahkan. Seperti kasus di desa Tegaldowo rembang dan Desa Ngiri, orangtua sampai melakukan kekerasan fisik, seperti menendang, dan memukul dengan sapu, sehingga anak kabur dari rumah. Bahkan ada kasus, setelah pernikahan, anak mencoba bunuh diri dengan minum cairan pestisida

2. Tingkat perceraian tinggi
Lebih dari 50 persen pernikahan anak tidak berhasil, dan akhirnya bercerai. Bahkan ada juga kasus yang menjalani pernikahan hanya dalam hitungan minggu lalu berpisah. Dan, biasanya hal ini terjadi karena anak perempuan tidak mau melakukan kewajiban sebagai istri dan kurangnya kesiapan dari masing-masing pasangan yang mau menikah

3. Kemiskinan meningkat, karena belum siap secara ekonomi

4. Traffiking/eksploitasi dan seks komersial anak

Setelah menikah maka perempuan akan dibebaskan oleh orangtuanya. Mereka akan keluar dari desanya atau rumahnya dan memilih bekerja. Beberapa kasus anak bekerja sebagai penyanyi karaoke bahkan ada juga yang menjadi wanita penghibur.


Sumber: Vivanews.com

Sebelum alami ‘mimpi buruk’ di tempat kerja, kenali ciri-ciri lingkungan kerja tak sehat.

Bagaimana lingkungan kerja saat ini? Setiap orang tentu ingin memiliki lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan, sehingga karier tumbuh dan berkembang dengan baik.
Namun, tak jarang keinginan tinggal keinginan, sementara jika ingin pindah kerja, belum ada perusahaan bisa menerima dalam waktu dekat. Akibatnya, Anda jadi stres.

Sebelum Anda mengalami ‘mimpi buruk’ seperti ini, berikut merupakan ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat. Jika apa yang dipaparkan di bawah ini ada dalam lingkungan kerja Anda, Anda dapat mengantisipasinya sejak dini.

1. Dilarang multitasking
Biasanya perusahaan sehat sangat senang jika karyawannya produktif dan mau berbuat lebih dari sekadar yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Perusahaan tidak sehat sebaliknya, tak suka pada karyawan 'serba bisa'. Biasanya hal ini terjadi, karena khawatir karyawan itu mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya diketahui. Jadi, perusahaan memberikan tugas-tugas bersifat khusus dan terpisah-pisah bagi karyawannya agar mudah dikontrol.

2. Rapat tidak efektif
Rapat semestinya merupakan ajang untuk saling berbagi ide, data, dan tujuan yang jelas untuk kemajuan perusahaan. Namun, dalam lingkungan kerja tidak sehat, rapat hanya menjadi ajang untuk saling menyalahkan, memojokkan, dengan disertai hitungan-hitungan matematika memusingkan, dan metafora-metafora klise.

Read more...